Selasa, 08 Mei 2012

Contoh Resensi Buku!


http://multiply.com/mu/claranaibaho/image/6/photos/upload/300x300/SPGQswoKCDQAAGYVXcw1/RUMAH-PELANGI.jpg?et=rtJ1li%2CZZuZ8eCZB8LUcmA&nmid=119768874Resensi Buku

Judul buku      :       Rumah Pelangi

Penulis                          :           Samsikin Abu Daldiri

Penerbit                                    :           Arti

ISBN                             :           979158334x

Jenis                             :           Memoar

Format                          :           Soft Cover

Dimensi                         :           19 x 13 x 1,5 cm

Halaman                        :           337 hal

Perjalanan Hidup dan Romansa Seorang Guru di Tengah Hiruk-Pikuk Komunis
Buku ini seolah membawa pembaca ke dalam pahit manis kehidupan seorang wanita yang dari kecilnya sudah aktif dalam berbagai hal. Wanita yang kerap dipanggil Sam ini, berkiprah dalam kegiatan-kegiatan seperti bersinden, lomba-lomba, kejuaraan demi kejuaraan, sewaktu ia masih menduduki bangku SMA. Sam mempunyai nama lengkap yaitu, Samsikin Abu Daldiri, yang tidak lain tidak bukan adalah si penulis itu sendiri. Kekentalan dari adat Jawa pun sangat terasa karena penulis benar-benar menceritakan keadaan real  pada saat ia mengalami kejadian-kejadian tersebut. Sam merupakan sosok wanita yang mandiri, walaupun tinggal berkecukupan, ia sangat patuh terhadap Bude dan Pakdenya, yang mengasuhnya, dan tentu orang tuanya, yang bertempat tinggal jauh darinya. Kehidupan Sam tidak berjalan mulus, waktu penghujung SMA ia sudah dijodohkan kepada seorang priyayi kelas atas yang menaruh hati padanya, Sam juga membalas perasaan priyayi itu, namun ternyata kakaknya Sam tidak memberikan restu pada kehadiran sang priyayi, bukan main marahnya ia karena ia menemukan adiknya sibuk berpacaran, padahal ia masih bersekolah dan tengah menduduki semester akhir, berarti sebentar lagi ia akan mengikuti ujian akhir. Reaksi sang priyayi pun tidak bagus, terhadap penolakan kakak Sam. Nilainya berantakan, batinnya terganggu, ia pun berjanji untuk tidak menaruh hati kepada pria lain, akibat luka yang ditimbulkan oleh sang kakak. Sam pun tidak lulus ujian akhir. Seluruh keluarganya berduka cita, namun hati Sam tetap teguh, ia berjanji meningkatkan prestasinya dalam mencapai kelulusan dan cita-citanya, yaitu menjadi seorang guru. Namun dalam perjalanannya, ia bertemu seorang lelaki sederhana, ndeso, yang ternyata terpikat oleh kecantikan Sam. Ia jatuh hati pada Sam, dan bersikeras untuk mendekatinya. Sam yang pada awal mulanya tidak tertarik sama sekali, perlahan-lahan pun luluh juga. Seperti hujan yang mengikis kerasnya batu, hati Sam pun terketuk, dan akhirnya ia jatuh hati kepada pria tersebut, yang bernama Abu. Waktu pun berlalu, Sam lulus dengan nilai memuaskan, begitupula Abu, yang menduduki kelas yang sama walaupun sekolah yang berbeda dan juga sama-sama tinggal kelas. Abu dan Sam keduanya bercita-cita menjadi guru, dan cita-cita mereka pun menjadi kenyataan. Mereka ikut kontrak kerja dari dinas, dan mulai bertugas ke daerah masing-masing. Mereka pun berjauhan, namun mereka tetap menikah. Karier mereka bisa dikatakan cukup memuaskan walaupun mereka harus hidup sangat sederhana. Sam menjadi guru yang sangat baik performanya dan sangat tulen membina murid-muridnya sehingga ia ditunjuk menjadi kepala sekolah sementara Abu menjadi petugas screening dalam menyeleksi guru yang waktu masa itu banyak yang terlibat dalam aksi PKI, maka dengan itulah gonjang-ganjing dari banyak pihak, antara lain adalah sogokan kaum komunis. Hidup mereka semakin pas-pasan dan uang mereka semakin menipis, namun mereka tetap dapat berprilaku jujur dan menolak sogokan-sogokan tersebut. Anak-anak yang dikaruniai Tuhan kepada mereka pun tumbuh besar dan sukses dalam kehidupan masing-masing. Pada penghujung cerita, diceritakan bahwa Abu meninggal dunia dalam keadaan yang baik, ditemani oleh Sam, istrinya. Kekurangan dari buku ini terletak pada covernya yang sangat mirip dengan cover buku Laskar Pelangi  karya Andrea Hirata. Kesamaan ini sangat drastis sehingga dapat membingungkan pembaca. Kekurangannya selain itu adalah isinya yang terlalu muluk dan berkutat tentang cerita cinta dari si penulis sehingga tidak sesuai dengan tema yang diambil buku ini yang mengedepankan basis komunis-nya, dan juga terdapat kosakata yang sekali lagi, dapat membingungkan pembaca karena salah tafsir. Kelebihan dari buku ini adalah alur cerita yang ringan dan mudah dicerna, rinci, dan penuh dengan moral kehidupan. Buku ini layak dibaca, tetapi pembaca sebaiknya jangan berharap banyak tentang kandungan cerita yang berlatar belakang komunis, karena mayoritas dari cerita ini murni hanya cerita kehidupan penulis dari masih kecil sampai dewasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar