Resensi Buku
Judul buku : Rumah
Pelangi
Penulis : Samsikin Abu Daldiri
Penerbit : Arti
ISBN : 979158334x
Jenis : Memoar
Format : Soft Cover
Dimensi : 19 x 13 x 1,5 cm
Halaman : 337 hal
Perjalanan Hidup dan Romansa Seorang Guru
di Tengah Hiruk-Pikuk Komunis
Buku ini
seolah membawa pembaca ke dalam pahit manis kehidupan seorang wanita yang dari
kecilnya sudah aktif dalam berbagai hal. Wanita yang kerap dipanggil Sam ini,
berkiprah dalam kegiatan-kegiatan seperti bersinden, lomba-lomba, kejuaraan
demi kejuaraan, sewaktu ia masih menduduki bangku SMA. Sam mempunyai nama
lengkap yaitu, Samsikin Abu Daldiri, yang tidak lain tidak bukan adalah si
penulis itu sendiri. Kekentalan dari adat Jawa pun sangat terasa karena penulis
benar-benar menceritakan keadaan real pada saat ia mengalami kejadian-kejadian
tersebut. Sam merupakan sosok wanita yang mandiri, walaupun tinggal
berkecukupan, ia sangat patuh terhadap Bude dan Pakdenya, yang mengasuhnya, dan
tentu orang tuanya, yang bertempat tinggal jauh darinya. Kehidupan Sam tidak berjalan
mulus, waktu penghujung SMA ia sudah dijodohkan kepada seorang priyayi kelas
atas yang menaruh hati padanya, Sam juga membalas perasaan priyayi itu, namun
ternyata kakaknya Sam tidak memberikan restu pada kehadiran sang priyayi, bukan
main marahnya ia karena ia menemukan adiknya sibuk berpacaran, padahal ia masih
bersekolah dan tengah menduduki semester akhir, berarti sebentar lagi ia akan
mengikuti ujian akhir. Reaksi sang priyayi pun tidak bagus, terhadap penolakan
kakak Sam. Nilainya berantakan, batinnya terganggu, ia pun berjanji untuk tidak
menaruh hati kepada pria lain, akibat luka yang ditimbulkan oleh sang kakak. Sam
pun tidak lulus ujian akhir. Seluruh keluarganya berduka cita, namun hati Sam
tetap teguh, ia berjanji meningkatkan prestasinya dalam mencapai kelulusan dan
cita-citanya, yaitu menjadi seorang guru. Namun dalam perjalanannya, ia bertemu
seorang lelaki sederhana, ndeso, yang
ternyata terpikat oleh kecantikan Sam. Ia jatuh hati pada Sam, dan bersikeras
untuk mendekatinya. Sam yang pada awal mulanya tidak tertarik sama sekali,
perlahan-lahan pun luluh juga. Seperti hujan yang mengikis kerasnya batu, hati
Sam pun terketuk, dan akhirnya ia jatuh hati kepada pria tersebut, yang bernama
Abu. Waktu pun berlalu, Sam lulus dengan nilai memuaskan, begitupula Abu, yang
menduduki kelas yang sama walaupun sekolah yang berbeda dan juga sama-sama
tinggal kelas. Abu dan Sam keduanya bercita-cita menjadi guru, dan cita-cita
mereka pun menjadi kenyataan. Mereka ikut kontrak kerja dari dinas, dan mulai
bertugas ke daerah masing-masing. Mereka pun berjauhan, namun mereka tetap
menikah. Karier mereka bisa dikatakan cukup memuaskan walaupun mereka harus
hidup sangat sederhana. Sam menjadi guru yang sangat baik performanya dan
sangat tulen membina murid-muridnya sehingga ia ditunjuk menjadi kepala sekolah
sementara Abu menjadi petugas screening dalam menyeleksi guru yang waktu masa
itu banyak yang terlibat dalam aksi PKI, maka dengan itulah gonjang-ganjing
dari banyak pihak, antara lain adalah sogokan kaum komunis. Hidup mereka
semakin pas-pasan dan uang mereka semakin menipis, namun mereka tetap dapat
berprilaku jujur dan menolak sogokan-sogokan tersebut. Anak-anak yang
dikaruniai Tuhan kepada mereka pun tumbuh besar dan sukses dalam kehidupan
masing-masing. Pada penghujung cerita, diceritakan bahwa Abu meninggal dunia
dalam keadaan yang baik, ditemani oleh Sam, istrinya. Kekurangan dari buku ini
terletak pada covernya yang sangat mirip dengan cover buku Laskar Pelangi karya Andrea
Hirata. Kesamaan ini sangat drastis sehingga dapat membingungkan pembaca.
Kekurangannya selain itu adalah isinya yang terlalu muluk dan berkutat tentang
cerita cinta dari si penulis sehingga tidak sesuai dengan tema yang diambil
buku ini yang mengedepankan basis komunis-nya, dan juga terdapat kosakata yang
sekali lagi, dapat membingungkan pembaca karena salah tafsir. Kelebihan dari
buku ini adalah alur cerita yang ringan dan mudah dicerna, rinci, dan penuh
dengan moral kehidupan. Buku ini layak dibaca, tetapi pembaca sebaiknya jangan
berharap banyak tentang kandungan cerita yang berlatar belakang komunis, karena
mayoritas dari cerita ini murni hanya cerita kehidupan penulis dari masih kecil
sampai dewasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar